YOGYAKARTA — Asosiasi Auditor Internal (AAI) mendorong auditor internal Indonesia bertransformasi menghadapi perkembangan Artificial Intelligence (AI), bukan sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mengambil peran strategis dalam memastikan pemanfaatannya tetap berada dalam koridor tata kelola, manajemen risiko, pengendalian, dan etika.

Di hadapan sekitar 150 peserta dan undangan, pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional dan Pengukuhan Profesi 2026 yang diselenggarakan AAI di Hotel Novotel Suites Malioboro, Yogyakarta, Selasa (29/9/2026), dengan tema “Artificial Intelligence (AI) dan Masa Depan Internal Audit: Transformasi Peran, Fungsi, dan Kompetensi Auditor Internal.”

Ketua AAI Misbahul Munir, Ak., MBA., PIA menegaskan bahwa perkembangan teknologi harus dilihat bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga momentum untuk memperkuat profesi auditor internal.

Menurutnya, AAI memiliki peran penting dalam menyiapkan auditor yang kompetensinya terus berkembang mengikuti perubahan lingkungan bisnis dan teknologi. Namun, transformasi tersebut tidak boleh meninggalkan fondasi profesi berupa integritas, objektivitas, kompetensi, dan profesionalisme.

“Teknologi boleh berubah, metode audit dapat berkembang, tetapi integritas dan profesionalisme harus tetap menjadi fondasi auditor internal,” menjadi pesan utama dalam arahannya.

Tema AI menjadi relevan karena kecerdasan buatan semakin luas digunakan dalam proses bisnis, analisis data, deteksi kecurangan (fraud detection), predictive analytics, keamanan siber, hingga pengambilan keputusan. Kondisi ini menuntut auditor meningkatkan kompetensi digital sekaligus memahami risiko baru, seperti bias algoritma, privasi, keamanan data, dan keputusan otomatis.

Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Prof. Dr. Cris Kuntadi menekankan perlunya perubahan cara kerja audit internal, dari audit yang periodik, berbasis sampel, manual, dan reaktif menuju continuous auditing, analisis populasi data, automated testing, dan predictive analytics.

“Transformasi bukan pilihan teknologi semata, tetapi perubahan operating model internal audit,” demikian salah satu pesan dalam paparannya.

Guru Besar FEB Universitas Gadjah Mada Prof. Syaiful Ali menyoroti tantangan dari sisi kompetensi auditor. “Main career risk: skills obsolescence, not replacement,” tegasnya. Menurutnya, audit bergerak menuju continuous dan full-population assurance, serta analisis risiko yang semakin berorientasi ke depan (forward-looking risk insight).

Sementara itu, Sabam Hutajulu, Ph.D. mengingatkan bahwa pemanfaatan AI seharusnya membawa auditor melampaui peran reaktif. Auditor dituntut semakin preventif dan antisipatif, mampu membaca sinyal risiko, memiliki business acumen, serta tetap mempunyai keberanian profesional untuk mengatakan “tidak” kepada Direksi maupun Komisaris ketika diperlukan.

Anggota Dewan Pengawas AAI Dr. Moch. Jasin Mashuri menggarisbawahi perubahan tersebut dengan pesan, “AI tidak akan menggantikan auditor internal, tetapi auditor yang menggunakan AI akan menggantikan auditor yang tidak menggunakannya.”

Selain seminar nasional, AAI juga mengukuhkan pemegang sertifikasi IAA, PIA, CIAM, dan CFRM, serta kepengurusan AAI.

Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menegaskan agenda AAI dalam menghadapi perubahan profesi audit internal: membangun auditor yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki professional judgment, pemahaman bisnis, keberanian profesional, dan integritas.

Sebab, ketika mesin semakin mampu membaca jutaan data dalam hitungan detik, nilai seorang auditor justru semakin ditentukan oleh sesuatu yang tidak mudah diotomatisasi, yaitu pertimbangan profesional, keberanian, dan integritas.

Yogyakarta, 29 September 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *